Penjagaan Mapolda Sumsel Dijaga Ketat Polisi Bersenjata Lengkap

220

Palembang, metropolisindonesia.com – Menyusul kembali terjadinya aksi teror bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018) pagi membuat penjagaan di Mapolda Sumsel semakin diperketat.

Belasan anggota polisi beratribut lengkap dengan rompi anti peluru dan senjata laras panjang menjaga gerbang utama Mapolda Sumsel. Sebelumnya, Mapolda Sumsel memiliki tiga gerbang yang difungsikan untuk keluar masuk pengunjung. Namun kini, hanya satu gerbang utama yang difungsikan sebagai pintu keluar masuk markas.

Berdasarkan pantauan, sempat terjadi antrean kendaraan yang hendak memasuki kawasan Mapolda Sumsel. Tiap pengunjung yang mengendarai motor akan diberhentikan terlebih dahulu. Pengunjung ditanyai keperluan mereka dan petugas juga menggeledah barang bawaan serta jok motor dan mereka diharuskan mendorong motor hingga melewati penjagaan berlapis.

Sementara pengunjung berjalan kaki akan diperiksa seluruh barang bawaannya, termasuk penggeledahan tas. Selain itu, pengunjung yang mengendarai kendaraan roda empat pun diharuskan turun dari mobil, membuka seluruh pintu termasuk pintu kap belakang.

Pendeteksi logam menyapu seluruh mobil, serta anjing polisi K-9 yang terlatih mengendus keberadaan bom pun diterjunkan ikut memeriksa para pengunjung.

Diketahui, Polda Sumsel masih memburu enam orang terduga teroris yang masih berkeliaran. Jika tak segera ditangkap, mereka dikhawatirkan akan menjadi lone wolf, istilah bagi pelaku tunggal teror.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengungkapkan, enam buronan teroris itu kabur dalam penggerebekan sarang teroris di Kabupaten Muara Enim beberapa bulan lalu.

Mereka adalah kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang bermarkas di Jawa Barat. Dalam penggerebekan itu, 13 orang ditangkap, dan delapan ditetapkan menjadi tersangka. “Masih ada enam buronan. Posisinya tidak diinformasikan, tetapi mereka masih ada,” ungkap Zulkarnain.

Menurut dia, buronan teroris itu tetap diawasi dan akan ditangkap. Sebab, mereka bisa saja merangkul anggota baru dan melakukan aksi teror. Pengawasan terhadap sel-sel teroris ini di koordinasikan dengan Densus 88 karena memiliki teknologi dalam memonitor pergerakan mereka. “Kami juga harus hati-hati, jangan sampai mereka menjadi lone wolf,” ujarnya.

Saat ini ada sembilan narapidana teroris yang berada di Sumsel. Empat diantaranya sudah dibebaskan dan sudah dilakukan deradikalisasi. Zulkarnain mengaku, polisi masih berkomunikasi baik dengan mereka dan memantau secara tidak langsung keseharian mereka.

“Untuk pengamanan selain di markas komando, kami pun melakukan patroli di tempat-tempat strategis yang dilakukan Polda dan seluruh Polres. Kami pun berkoordinasi dengan Kodam II/Sriwijaya untuk pengamanan,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono menambahkan, meski pihaknya meningkatkan kesiapsiagaan, duitnya berujar, situasi di Palembang masih kondusif.

Pihaknya menambah jumlah personil untuk melakukan penjagaan di markas serta personel untuk patroli di lokasi-lokasi yang dirasa perlu penambahan penjagaan.

“Saya imbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh berita yang tersebar di media sosial. Polri sudah melakukan upaya antisipasi dan pencegahan untuk memberikan jaminan keamanan di Palembang,” jelasnya. (MI33/Nia)

Editor : Malvin Mamora Baraf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here