Mendorong Minat Baca Warga Hadir Kolecer di Pusat Keramaian 27 Kabupaten/Kota se Jabar

149

METROPOLISINDONESIA.COM,BANDUNG -Sebuah lemari buku berbentuk mirip kotak telepon merah khas Inggris tersebar di seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat (Jabar). Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) namanya.

Dengan hadirnya Kolecer di pusat keramaian 27 kabupaten/kota se-Jabar, masyarakat pun semakin asyik dan mudah meluangkan waktunya untuk membaca.

Itulah yang menjadi fokus Program Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jabar melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jabar dalam mendorong minat baca warga Jabar. Pasalnya, secara umum minta baca di Indonesia masih rendah dengan indeks membaca hanya 0,001.

“Tujuan (Kolecer) meningkatkan minat baca di masyarakat, sehingga Kolecer pun diletakkan dekat dengan masyarakat di pusat keramaian agar mudah diakses,” ucap Riadi, Kepala Dispusipda Jawa Barat.

Di tahap pertama, program Kolecer yang diresmikan pada 15 Desember 2018 oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ini disebar ke 26 kota/kabupaten se-Jabar, kecuali Kota Bandung sebagai percontohan.

“Target ada 150 Kolecer hingga akhir 2019. Kolecer dari provinsi ini sangat ditunggu karena jadi wahana, ada kegiatan masyarakat baru di tempat itu, misal bedah buku,” tambah Riadi.

Kini, Kolecer pun terbukti menarik masyarakat daerah untuk sekadar bertanya soal buku, mulai membaca buku, hingga berkreasi atau mengikuti kegiatan yang ditawarkan oleh pengelola masing-masing Kolecer.

Wowo, boneka lucu milik Dini Dwi Widya, adalah wujud kreativitas yang menemani hadirnya Kolecer di Kabupaten Cianjur. Sebagai pengelola Kolecer di Taman Alun-Alun Cianjur, Dini yang merupakan pendongeng ini memotivasi anak-anak untuk membaca lewat cerita Wowo.

“Sekitar 60 persen (ke Kolecer) itu anak-anak karena ada boneka khusus yang menggaet anak-anak untuk datang, sisanya 30 persen remaja dan 10 persen orang dewasa,” kata Dini.

“Kolecer luar biasa sekali, respons bagus dan selalu ramai setiap hari terutama hari libur. Buku beragam ada sekitar 150 buku, mayoritas buku anak. Lainnya ada novel, buku agama, resep, dan tentang obat-obatan,” tambahnya.

Selain membaca dan mendengarkan dongeng, banyak kegiatan lain di Kolecer Kab. Cianjur yang digelar bersama komunitas, di antaranya edukasi pengolahan sampah dan Operasi Tangkap Tangan kantung plastik untuk ditukar dengan tas belanja ramah lingkungan bersama Zero Waste Cianjur.

“Kegiatan itu juga jadi magnet orang-orang sekitar. Selain itu, warga sekitar alun-alun dan pendopo malah sudah biasa sebelum madrasah, mampir dulu ke Kolecer,” ujar Dini.

Sama seperti Dini, Sinta Dewi Vaira juga menawarkan kreasi lainnya untuk menghidupkan aktivitas di sekitar Kolecer Kota Tasikmalaya. Warga bisa belajar menulis, menggambar, juga menonton film dekat Kolecer berwarna hijau yang berada di Gazebo Taman Kota Tasikmalaya ini.

“Saya ajarkan menulis pengalaman juga, kalau membaca saja tanpa disentuh hal kreatif lain ‘kan bisa bosan. Antusiasme warga sangat bagus, terutama kalau saya buat literasinya tidak hanya membaca dan menulis,” kata Sinta.

“Saya ajak masyarakat menonton film karya lokal, kerja sama dengan Kofita (Komunitas Film Tasikmalaya), juga ada cuplikan Bus Wisata Ngulisik. Ada juga permainan edukasi anti korupsi dari KPK,” kata Sinta.

Bicara Bus Wisata Ngulisik (Nguriling Kota Tasik), Sinta pun berujar telah menggandeng pengelola untuk menghadirkan Kolecer mini dalam bus. Totalnya, terdapat 88 buku yang siap dibaca oleh warga Kota Pesantren ini.

“Yang membaca kebanyakan anak-anak, apalagi di sana (Taman Kota) banyak pedagang, nah anak-anak pedagang itu saya ajak dan rangkul untuk membaca sambil menunggu orang tuanya bergadang,” ucap Sinta.

Keseruan lain pun hadir menemani Kolecer di Kota Depok dan Kab. Bandung Barat. Alfian Pratama, pengelola Kolecer di Taman Lembah Gurame Kota Depok mengatakan, warga menyambut positif kehadiran kotak berwarna unggu itu.

Bahkan, tak sedikit yang ingin menyumbang buku-buku untuk menjadi koleksi Kolecer Kota Depok. “Warga di perumahan ini antusias banget, ada yang mau menyumbang sampai satu dus. Saya pun harus memilih, mana yang layak dipublikasikan, tidak semua masuk Kolecer,” kata Alfian.

“Buku di Kolecer beragam, ada kisah inspiratif, novel juga banyak dari sumbangan masyarakat misal Harry Potter. Sekarang kurang lebih ada 285 buku, sebagian ada di kotak di bawah Kolecer,” imbuhnya.

Minat ke Kolecer, ujar Alfian, sangat tinggi terutama pada Minggu, terutama oleh anak-anak yang baru mulai belajar membaca didampingi orang tuanya.

Selain itu, Kolecer menjadi wadah berkumpul bersama keluarga di akhir pekan karena Alfian kerap mengajak warga yang membawa hewan peliharaan untuk mampir di Kolecer.

“Inovasi di Depok, kadang mengajak orang-orang yang bawa hewan peliharaan mampir ke Kolecer, jadi sekaligus literasi sains dan atraksi,” tutur Alfian.

Di Masjid Besar Lembang, Kolecer Kab. Bandung Barat (KBB) juga menyedot perhatian warga setempat. Budiman Santosa, pengelola Kolecer KBB, berujar bahwa setiap bulannya antusiasme pelajar dan jemaah masjid meningkat

“Mereka membaca buku walau sebentar. Dan karena di situ banyak sekolah, jadi kebanyakan pelajar yang ke Kolecer. Buku beragam, ada untuk anak, remaja, dan orang tua,” ucap Budiman.

Selain diisi buku dari Dispusipda Jabar, Kolecer KBB juga mendapat pinjaman dari perpustakaan kabupaten. Total, terdapat 190 buku yang bisa dibaca oleh masyarakat terutama di Lembang.

“(Kolecer) sudah kerja sama dengan Kampung Dongeng KBB dan perpustakaan desa, juga dengan sekolah-sekolah. (Dekat) di sini ada SDN 1 Jayagiri, saya instruksikan ke guru, setelah olahraga di alun-alun sebelum kembali ke sekolah baca dulu di Kolecer 10-15 menit,” ujar Budiman.

Adapun berdasarkan rekap teranyar Dispusipda Jabar periode April hingga Agustus 2019, Kolecer yang tersebar se-Jabar berhasil mendapat 21.226 kunjungan.

Hingga periode yang sama, program ini menawarkan 3.969 judul koleksi buku dengan total 5.606 eksemplar yang bisa dibaca anak-anak hingga orang tua.

Selain membaca, menulis, dan mendengar dongeng, kegiatan lain yang digelar bersama Kolecer pun bervariasi di setiap daerah, dari diskusi buku, fun learning English, cek kesehatan, melukis dan mewarnai, hingga belajar sajak. Seru ‘kan?.(Rill)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here