MetropolisIndonesia.com,Palembang – Sejumlah Wartawan dari media cetak, online dan elektronik mendatangi Kantor Gubernur Sumsel, Pasalnya para kuli tinta yang dikoordinir oleh octap Riady Ketua PWI Sumsel sekaligus Ketua Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan PWI Pusat ini menuntut agar Gubernur Sumsel H. Herman Deru menindak serta menonaktifkan pengawal pribadi ( Walpri )yang telah mendorong dan menantang wartawan detik.com adu fisik, serta menuntut gubernur meminta maaf atas perlakuan Walpri tersebut.

Kedatangan sejumlah awak media ini dan pengurus organisasi pers seperti PWI. AJI. IWO, yang ingin bertemu langsung dengan gubernur terpaksa ditunda karena gubernur tidak berada dikantor. Menurut Staf Khusus Bidang Media Alfrenzi Panggarbesi Gubernur tidak berada ditempat jadi tidak bisa menemui kawan kawan wartawan,” Pak Deru lagi di Solo jadi besok dijadwalkan pertemuan dengan gubernur,” jelas Alfrenzi yang akrab dipanggil Ojik.
Sementara menurut Oktap Riady, kawan kawan menerima adanya penundaan pertemuan dengan gubernur. “Kita mendapat info dari Stafnya Pak Deru. Bahwa gubernur sedang di Solo, jadi besok kita dijadwalkan bertemu gubernur.” Kata Oktap.
Masih menurut Oktap, yang jelas tuntutan kawan kawan agar gubernur menon aktifkan atau tidak mempekerjakan Walpri yang kemaren mengancam dan menghalang-halangi tugas wartawan, seperti yang terjadi dengan wartawan detik.com. Dan juga menuntut Gubernur Sumsel H Herman Deru meminta maaf secara terbuka, bukan melalui Facebook atau Staf Khusus Bidang Media, tegas Oktap.
Seperti yang disampaikan Raja Adil Siregar wartawan Detik.com melalui surat terbuka.
Kronologi keributan saya dengan staff pengawal pribadi Gubernur Sumsel di acara PT Sampoerna di PTC (10 Novembet 2018).
Acara berlangsung di atrium PTC lantai dasar, saya awalnya akan wawancara dengan Gubernur Herman Deru terkait UMKM di Sumsel. Karena kondisi yang sempit, saya sempat minta izin dengan walpri berpakaian safari hitam lengkap.
Karena jarak saya dengan Gubernur jauh dan tidak bisa bertanya, saya bilang mau izin untuk kedepan. Saat itu saya ingin bertanya terkait UMKM, tapi perut saya selalu dihalangi dan tidak bisa maju ke depan. Padahal saat itu ada wartawan lain (Mba Dinda dll) di depan dan masih ada jarak untuk saya maju sedikit.
Saat wawancara hampir selesai, saya coba maju dan menanyakan ulang terkait UMKM. Beberapa kali saya bertanya dengan gubernur. Namun tetap ditarik dari belakang saat wawancara.
Selesai wawancara saya sempat bilang “Izin saya wartawan, saya dari media dan saya tahu kapasitas saya mas. Saya bisa jaga jarak kok, nggak mungkinlah saya dorong-dorong,”.
Kalimat ini saya sampaikan karena walpri bilang “Jangan maju dan jangan dorong-dorong,” sambil membatasi jarak yang menurut saya berlebihan karena terus-menerus menarik jaket saya.
Saat kalimat itu saya ucapkan, seorang walpri marah dan menanyakan kenapa saya ngomong begitu. Padahal kalimat itu menjawab pernyataan walpri supaya tidak terlalu dekat dengan gubernur dan menurut saya itu jarak yang normal.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba seorang walpri menarik saya dan mendorong ke belakang. Saat itu ada Karo Protokol Pemprov, Pak Iwan menanyakan “Ada apa, ada apa,”.
Tetapi walpri berseragam safari lengkap datang beberapa orang dan mendorong saya keluar dari kerumunan. Untungnya saya saat itu tidak jatuh.
Saat akan mundur ke belakang, lagi-lagi walpri datang dan menyorong sambil melontarkan kalimat yang kalau tidak salah saya “Memangnya kenapa kau ha?,” sambil mendorong kebelakang.
Saat itu suasana semakin panas setelah saya didorong dan saya masih berusaha menjelaskan. Tiba-tiba teman-teman media lain datang, saya sempat ditarik ke belakang. Tapi tetap saja beberapa walpri mengejar saya dan mengajak berkelahi.
Terakhir saya dilerai oleh Bang Ojik, Staff Khusus Bidang Media Pak Gubernur. Dia minta saya pergi dan menjauh dari acara saat itu.
“Tidak ada pembicaraan lebih lanjut saya dan walpri setelah insiden ini. Tetapi ya,  menurut saya walpri bersafari lengkap itu telalu berlebihan dalam pengamanan. Mereka seolah menghalangi wartawan untuk wawancara. Padahal gubernur saat itu masih bersedia untuk diwawancarai terkait UMKM,
“Hari ini mungkin saya yang merasakan, saya tidak tahu apakah teman-teman media lain pernah merasakan hal yang sama. Intinya, saya kecewa dengan tim walpri yang pengamanannya terlalu berlebihan itu dan menurut saya sudah diluar kewajaran,”(Yasandi) Editor/Posting : Malvin Mamora Baraf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here