Para Ahli Kaji Nilai Tambah Karet di Sumsel

217

MetropolisIndonesia.com,Palembang – Kontribusi komoditi karet pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Sumatera Selatan sangatlah berpengaruh karena mampu menyerap tenaga kerja, berkontribusi terhadap ekspor dan berkorelasi terhadap program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Maka untuk itu, perlu ada kajian bagaimana caranya untuk menambah nilai tambah terhadap komoditi karet. Menurut saya, salah satu upaya yakni mendirikan industry hilir sehingga timbul permintaan terhadap karet rakyat dan mendongkrak harga karet.

Kajian maupun Wacana tersebut diutarakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Yunita Resmi Sari pada acara dalam kegiatan Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sumatera Selatan yang bertemakan meningkatkan penyerapan karet rakyat melalui hilirisasi industri karet domestik di Hotel The Zuri Palembang, Kamis (11/4).

“Kita tidak boleh fokus pada satu alternative saja karena banyak potensi hilir yang dapat dibangun tapi kita harus tentukan mana yang cocok,” katanya.

Menurut Yunita Resmi Sari menjelaskan bahwa  pada intinya mendirikan industry hilirisasi dalam rangka meningkatkan penyerapan karet rakyat unrtuk meningkatkan harga karet belum kita hitung. Artinya bagaimana potensi kenaikan harga karet jika menghadirkan industry ban tapi nantinya kita lihat semuanya tergantung pada industry hilirisasi itu sendiri.

“ Jelasnya, semakin banyak karet terserap maka harga pun dapat meningkat otomotis pendapatan petani karet meningkat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, menurut Ketua Umum Dewan Karet Indonesia, Aziz Pane mengungkapkan Wacana mengadakan produksi ban maupun membuat industry ban di Sumatera Selatan tidaklah efektif dan optimal

Untuk merealisasikan atau mengahdirkan investasi di bidang industry ban sangat tidak efektit atau biaya produksinya sangat tinggi akan mmengakinbatakan harga ban barupun mahal  “ Tapi ada wawacana industry ban vulkanisir (yang notabene merupakan ban bekas yang mengalami pelapisan kembali/red)””, ujar Aziz

A Aziz Pane menjelaskan, selama ini Indonesia hanya dijadikan pasar oleh dunia. Bahkan, sarung tangan, latex nya pun masih impor. Karena itu, pengembangan industri ban bisa dilakukan. Di Palembang sendiri pabrik ban milik negara pernah ada hingga tahun 1989 dijual, sekarang yang masih eksis yakni di Medan dan Jawa Barat bahkan hingga ke luar negeri.

Tambah A Aziz Pane, bahan karet untuk aspal jalan perlu standar kualitas dibuat harus disesuaikan dengan jalan yang ada. Tapi lebih menjanjikan dan sangat berpeluang hilirirasi karet adalah yakni ban Vulkanisir

“Industri Ban vulkanisir ini sangat berpeluang. Artinya ban bekas ini bisa dua kali hingga tiga kali didaur ulang dengan memperbaiki telapaknya” , ujarnya

Ia mengutarakan, memang negara pemakai ban bekas banyak protes disebabkan efek ban bekas tidak bisa dihancurkan dan bisa merusak struktutur tanah akibat ban bekas yang ditanam contoh di Kalimantan dan menimbulkan polemik pada pabrik ban di dunia saat ini sedang terancam. “Terlebih lagi investasi untuk membangun pabrik ban ini sangat besar,” ujarnya.

Lebih jelasnya, ada Keluntungan maupun kelebihan utama ban vulkanisir, yakni relative murah dibandingkan harga ban yang baru. Apalagi, jumlah truk pengangkut karet yakni berskisar 400 unit yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Sumsel. belum lagi truk pengangkut batubara, pengangkut pupuk dan lain sebagainya sehingga potensi ini sangat besar untuk industry ban vulkanisir.

“Jika Asosiasi unit pengolahan dan pemasaran bahan olah karet (UPPB) kabupaten bisa dijadikan IKM ban vulkanisir, maka setiap sentra karet bisa melayani truk untuk menyediakan ban vulkanisir ini. Tentunya, penyerapan karet rakyat pun akan bertambah untuk industry hilir,” tutupnya.

Acara ini diadakan oleh Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Selatan dan dibuka oleh Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Provinsi Sumatera Selatan Yohanes Lbn. Toruan.(MI33)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here